Ilmu Kalam; Teologi Pembebasan


A.    Teologi Pembebasan

Teologi pembebasan merupakan sebuah paham tentang peranan agama dalam ruang lingkup lingkungan sosial(1). Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa teologi pembebasan merupakan suatu usaha kontekstualisasi ajaran-ajaran dan nilai keagamaan pada masalah kongkret di sekitarnya. Dalam kasus kelahiranya, masalah kongkret yang dihadapi adalah situasi ekonomi dan politik yang dinilai menyengsarakan rakyat(2).

Secara etimologis, teologi berasal dari theos yang berarti Tuhan dan logos yang berarti ilmu. Teologi adalah ilmu yang mempelajari tentang Tuhan dan hubungannya dengan manusia dan alam semesta. Sedangkan kata pembebasan merupakan istilah yang muncul sebagai reaksi atas istilah pembangunan (development) yang kemudian menjadi ideologi pengembangan ekonomi yang cenderung liberal dan kapitalistik dan umum digunakan di negara dunia ketiga sejak tahun 60-an(3).

Sementara itu, Teologi pembebasan menurut Farid Essack, adalah sesuatu yang bekerja kearah pembebasan agama dari struktur serta ide sosial, politik, ekonomi dan religius yang didasarkan pada ketundukan yang dogmatis dan pembebasan seluruh masyarakat dari semua bentuk ketidak adilan dan exploitasi ras, gender, kelas dan agama(4).

Teologi Pembebasan bagi Gustafo Gutierez (1973) merupakan suatu refleksi yang lahir dari ungkapan dan pengalaman serta usaha bersama untuk menghapus suatu ketidakadilan dan untuk membangun suatu mesyarakat yang berbeda yang lebih bebas dan manusiawi, dengan demikian teologi pembebasan merupakan kombinasi antara analisis dan teori sosial kritik dengan teologi atau merupakan analisis kritis situasi kesejarahan sosial kaum tertindas, dan sebagai komitmen transformasi politik para penganut agama ( konteks agama disini adalah agama kristen, yang dihegemoni oleh pihak gereja yang membela penguasa) dan bukan sekedar pangalaman rohani yang ritus dan dogmatis tanpa merasakan kepekaan sosial(4). 

B.     Sejarah Kemunculan

Teologi Pembebasan muncul di kawasan Amerika Latin sebagai respon atas kondisi sosial, ekonomi dan politik saat itu. Sejak tahun 1950-an negara-negara kawasan Amerika Latin ini melakukan proses industrialisasi di bawah arahan modal multinasional. Namun karena mementingkan pertumbuhan ekonomi, industrialisasi telah menciptakan kesenjangan sosial yang begitu tajam. Urbanisasi meningkat tajam. Kaum proletar –kelas buruh– tumbuh dengan cepat. Inflasi melambung, biaya hidup membubung. Ketidakpuasan meluas. Situasi politik menjadi tegang dan labil. Kudeta terjadi di mana-mana dan membuahkan pemerintahan diktator militer. Pada saat yang sama, otoritas gereja Katholik mulai terbuka terhadap perubahan dan pandangan-pandangan dari luar(3).

Sementara itu di Indonesia, Teologi Pemebeasan mulai berpengaruh terutama pada tahun 1980-an. Masuknya gagasan Pembebasan ini tak lepas dari dua hal. Pertama, terbongkarnya kesadaran palsu intelektual Indonesia yang dulu mendukung Orde Baru justru dari terjadinya Revolusi Mahasiswa di Perancis yang mengenalkan ‘Kesadaran Kiri Baru’ dan Kedua, adalah berkembangnya teologi pembebasan Katolik terutama di Timor-Timur yang menjadi sumber dari rembesnya ajaran Pembebasan Latin lalu justru dikembangkan oleh intelektual-intelektual Islam yang jauh lebih berani ketimbang intelektual Katolik di Indonesia yang masih terpengaruh ajaran Pater Beek. Di kalangan Islam saya membaca banyak tulisan-tulisan teologi pembebasan itu dengan membahas Marxisme secara rinci dan dalam, terutama bahasan dari Dawam Rahardjo, Fachry Ali dan Gus Dur di majalah Prisma. Gagasan pembebasan inilah yang kemudian berkembang menjadi pemikiran independen secara ekonomis dimana melahirkan pemikir ekonomi kerakyatan paling berpengaruh yaitu : Adi Sasono(5).
 
C.     Metode Teologi Pembebasan

Teologi pembebasan adalah sebuah gebrakan baru dalam teologi. Gebrakan itu pertama-tama bukan terletak pada obyek kajian dan isi melainkan pada metodologinya, pada cara berteologi. Cara berteologinya adalah transformatif, bertolak dari praksis atau iman yang dialami dalam sejarah tertentu. Cara demikian berbeda dengan metode berteologi di Barat (Eropa dan Amerika Utara). Metode teologi barat, atau teologi tradisional, atau teologi dominan, bertolak dari teori, dari iman yang diajarkan dan dipikirkan. Oleh karena itu, seringkali kritik atas teologi pembebasan datang dari tradisi teologi barat. Menurut Hans Urs von Balthasar, teologi pembebasan bukan asli berasal dari Amerika Latin, melainkan masih menjadi bagian dari teologi Kerajaan Allah. Dari sudut pandang ini, antara teologi barat dan teologi pembebasan terdapat perbedaan-perbedaan mendasar terutama dalam hal metodologi, pelaku kegiatan berteologi, analisis, kemasyarakatannya, dan locus-theologicus-nya. Pelaku teologi pembebasan adalah rakyat yang tertindas sendiri. Para teolog (salah satunya Gutierrez) berperan menyintesiskan kutipan-kutipan yang diedarkan oleh rakyat jelata di banyak umat basis, juga dari kelompok-kelompok studi Kitab Suci dan diskusi-diskusi sosial politik, bahkan dari omongan dan tindakan di perkampungan-perkampungan yang miskin dan kotor. Metodologi teologi pembebasan betolak dari reaksi terhadap sistem masyarakat yang tidak adil. Teologi pembebasan menangani orang yang dianggap bukan orang lagi (non person). Locus theologicus teologi pembebasan adalah orang yang menghayati religiositasnya dalam tantangan konflik kelas di Dunia Ketiga. Dari segi isi dan obyeknya, tidak ada perbedaan dengan teologi Barat. Keduanya berbicara mengenai citra Allah, kedosaan manusia, Kerajaan Allah, kristologi, eklesiologi, eskatologi, dan sebagainya. Perbedaan keduanya terletak dari pendekatan yang dipakai, sebagaimana telah ditulis sebelumnya(6).


D.    Teori Pembebasan dan Gereja
Kekerasan dan ketidakadilan terjadi di berbagai tempat di negara yang memiliki norma cinta kasih. Banyak peristiwa berdarah yang tidak akan saya sebut di sini yang terjadi di Amerika Latin. Pembantaian menimpa banyak pastor, suster, dan masyarakat sipil yang dianggap sebagai musuh kepentingan kapitalis Amerika Serikat dan birokrat-militer beserta tuan tanah setempat.
Praksis mereka adalah praksis untuk pembebasan manusia. Bukan saja pembebasan dari kendala sosial, ekonomi, dan politik di dunia, melainkan pembebasan yang utuh dan menyeluruh sebagaimana manusia dicintai Tuhan Allah untuk berpartisipasi dalam citra-Nya. Bagi Gutierrez, “pembebasa” bukan saja sebuah proses, melainkan juga sebuah kerangka berbagai tataran arti yang saling bertautan:
1.      Pembebasan ekonomi, sosial, dan politik
2.      Pembebasan manusiawi, yang menciptakan manusia baru dalam masyarakat solidaritas yang baru
3.      Pembebasan dari dosa dan masuk dalam persekutuan dengan Tuhan Allah dan semua manusia
Dari refleksi kritis Gutierrez, jelas bahwa yang diperjuangkan oleh para teolog pembebasan Amerika Latin bukan saja kepentingan dunia semata, melainkan pembebasan dalam arti sebagai peziarahan seluruh manusia dalam segala keutuhan dan kedalaman hidupnya serta sekaligus pembebasan dalam arti penyelamatan manusia dari dosa.
Penggunaan kekerasan subversif, bergabung dengan kelompok gerilya, memanggul senjata simbol kekerasan, terpaksa dipakai karena tidak tersedia alternatif lain lagi. Pemerintah dan aparat militer tidak dapat diajak berbicara lagi. Para aktivis dan gerilyawan tidak ada pilihan lagi selain mempertahankan hidup.
Memang pada akhirnya, praksis pembebasan manusia tidak otomatis menjadi keprihatinan di seluruh warga Gereja Katolik, termasuk di Indonesia. Tentu dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini, teologi pembebasan dapat diterapkan untuk Indonesia. Bahkan radikalitas dalam arti melakukan tindakan subversif dengan mengangkat senjata atau dengan kekerasan bisa dipakai untuk melawan pemangku jabatan yang bebal. Kondisi masyarakat Indonesia butuh pembebasan dari segala kesulitan ekonomi, masalah sosial, dan politik. Jerat kapitalisme, kemiskinan, dan ketidakadilan yang ditandai dengan pejabat yang korup, dan kurangnya tanggung jawab terhadap lingkungan dari para kapitalis yang menyengsarakan rakyat kecil, menandai bahwa bangsa Indonesia sekarang menuntut adanya revolusi sosial segera. Usaha pembebasan itu menurut Gutierrez harus dilakukan oleh rakyat yang tertindas sendiri agar usaha pembebasan itu otentik dan konkret(6).

E.     Teologi Pembebasan dan Islam

Asghar Ali Engineer adalah seorang Muslim India yang muncul dengan pemikirannya seputar Islam dan Teologi Pembebasan.
Menurut Asghar, ketika dihadapkan pada persoalan-persoalan riil kemanusian seperti kemiskininan, penindasan dan ketidakadilan, agama dianggap sebagai institusi yang mandul, tidak mampu berbicara dan bahkan kadang malah melegitimasi kepentingan penguasa. Hal ini karena inti dari ajaran atau teologi dari agama-agama yang ada tidak banyak perhatian dan keberpihakan kepada kaum lemah.
Asghar Ali tidak menolak jika itu ditujukan pada Agama Islam. Satu sisi ia melihat teologi Islam yang ada memang lebih banyak berbicara tentan Tuhan dalam dirinya sendiri dan persoalan-persoalan eskatologis. Akan tetapi pada sisi lain Asghar berpandangan bahwa Islam juga mempunyai nilai-nilai pembebasan yang revolusioner.
Dalam kerangka ini, Asghar mencoba merevitalisasi nilai-nilai pembebasan Islam untuk merumuskan Teologi Pembebasan. Upaya ini dilakukan Asghar dengan dua cara, pertama melakukan analisis sejarah atas praktik-praktik pembebasan yang dilakukan oleh nabi. Kedua dengan menggali nilai-nilai pembebasan dari ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang pembebasan budak, kesetaraan manusia, keadilan ekonomi, dan ayat-ayat pembebasan lainnya. Upaya ini dilakukan dengan pendekatan sosio-historis sebagaimana double movement-nya Fazlur Rahman
Dari sinilah dia mengemukakan tiga pembebasan yang mesti dilakukan umat manusia. Pertama, pembebasan dari sikap dan praktik-praktik rasisme dan sikap-sikap lain yang didasarkan pada anggapan bahwa manusia, ras, etnis dan suku tertentu antara satu dengan lainnya tidak setara.  Kedua, pembebasan terhadap perempuan yang saat ini posisinya masih sub-ordinat di bawah laki-laki karena ideologi jender yang memandang posisi laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Ketiga, pembebasan dunia dari struktur ekonomi kapitalistik yang eksploitatif dan semakin meneguhkan ketimpangan ekonomi dunia(3).
  

KESIMPULAN

Teologi pembebasan merupakan Teologi sebuah paham tentang peranan agama dalam ruang lingkup lingkungan sosial. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa teologi pembebasan merupakan suatu usaha kontekstualisasi ajaran-ajaran dan nilai keagamaan pada masalah kongkret di sekitarnya. Dalam kasus kelahiranya, masalah kongkret yang dihadapi adalah situasi ekonomi dan politik yang dinilai menyengsarakan rakyat
tiga pembebasan yang mesti dilakukan umat manusia. Pertama, pembebasan dari sikap dan praktik-praktik rasisme dan sikap-sikap lain yang didasarkan pada anggapan bahwa manusia, ras, etnis dan suku tertentu antara satu dengan lainnya tidak setara.  Kedua, pembebasan terhadap perempuan yang saat ini posisinya masih sub-ordinat di bawah laki-laki karena ideologi jender yang memandang posisi laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Ketiga, pembebasan dunia dari struktur ekonomi kapitalistik yang eksploitatif dan semakin meneguhkan ketimpangan ekonomi dunia
  

***
Catatan

1.        Banawiratma, J.B dan Muller. 1993. Berteologi Sosial Lintas Ilmu. Yogyakarta: Kanisius halaman 42
2.        Dister Nico Syukur. 1992. Pengantar Teologi. Yogyakarta: Kanisius
3.        Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, “Teologi Pembebasan”, Wikipedia, diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Teologi_pembebasan , pada tanggal 24 November 2010 pukul 4.41
4.        Dari Oikumene Sapta, “TEOLOGI PEMBEBASAN”, saptaoikumene, diakses dari http://saptaoikumene.blogspot.com/2010/02/teologi-pembebasan.html , pada tanggal 24 November 2010 pukul 5.03
5.        Dari ARWANI, “TEOLOGI PEMBEBASAN ASGHAR ALI ENGINEER”, Algaer’s Blog, diakses dari http://algaer.wordpress.com/2010/04/08/teologi-pembebasan-asghar-ali-engineer-2/ , pada tanggal 13 Desember 2010 pukul 14.11
6.        Dari Ahmad UU, “Islam Sebagai Teologi Pembebasan dari Ide Menuju Praksis”, Ahmad’s Scribd, diakses dari http://www.scribd.com/doc/39998726/Islam-Sebagai-Teologi-Pembebasan-Dari-Ide-Menuju-Praksis , pada tanggal 1 Desember 2010 pukul 2.16
7.        Dari Nurmansyah Cinur Aly, “Teori Pembebasan” , PMII Komisariat Univ. Al Azhar Medan, diakses dari http://www.facebook.com/topic.php?uid=170446176530&topic=14442 , pada tanggal 23 November 2010 pukul 23.14
8.        Dari Eko Antonius, “Teori Pembebasan Gustavo Gutierrez”,  Gudang Ilmu, http://sophialover.wordpress.com/2010/02/06/teologi-pembebasan-gustavo-gutierrez/ , pada tanggal 11 Desember 2010 pukul 00.03

Comments