Selamat Jalan ♥

“M

a, aku mo keliling kompleks dulu ya!”

Seorang pemuda berteriak seraya menutup pagar rumahnya.

“Pagi mbah!”

Sapanya ramah saat melewati seorang wanita tua.

Meski baru dua hari menetap dikompleks perumahan elit A.Yani itu, pemuda yang tak pernah melepas senyum itu tampak sudah cukup akrab dengan sebagian tetangga.

“Mau jalan – jalan lagi mas T?”

Seorang tukang kebun menyapanya.

“Iya pak. Masih mau lihat – lihat keadaan sekeliling sini! Sapa tahu aja bisa ketemu tempat menarik!”

T memang panggilan Qyorte. Dan ia akan sangat senang bila semua orang memanggilnya demikian.

“Wah, mau saya kasih tahu rahasia bagus gak mas?”

“Apaan pak?”

T mendekat kearah tukang kebun.

“Sebenenarnya mas, kalo mau masuk kedalam semak itu, mas bisa ketemu tempat bagus!”

Si tukang kebun berkata sambil menunjuk kearah semak yang juga ditumbuhi pohon – pohon besar. Saking rimbunnya, T sempat mengira bahwa itu adalah hutan.

“Serius pak? Saya coba kesana deh ya! Thanx infonya pak, yuk!”

T berlalu menuju ‘hutan’. Rada takut juga sih. Selain tak tahu hal macam apa yang bakal ia temui didalam sana, T juga merasa didalam hutan itu akan cukup gelap. Tapi bukan T namanya kalau mengurungkan niat cuma karena hal demikian.

Tak salah T memberanikan diri menerobos semak, melalui rimbunan pohon, karena sesampainya ditengah ‘hutan’, T menemukan pemandangan yang cukup menakjubkan.

Tak terbayangkan sebelumnya ia akan menenemukan sebuah padang rumput yang indah dan cukup luas ditengah hutan itu, lengkap dengan sebuah bangku taman ditengahnya. Satu lagi, disitu sama sekali tak gelap. Kerena tak ada satupun pohon yang tumbuh ditengah padang rumput yang lumayan luas itu, sinar matahari sore dapat leluasa masuk dengan begitu indahnya. Tampak pula kuncup – kuncup bunga yang seolah ingin merekah. Mungkin tinggal menunggu waktu untuknya bergabung menambah keindaha padang rumput.

♥♥♥

Sehabis makan malam, T kembali mengujungi padang rumput yang siang tadi ia temukan. Malam ini langit sangat cerah. T merasa ia akan dapat puas menikmati keindahan bintang yang ia sukai, disana.

T menghentikan langkahnya tepat saat ia berada dibawah pohon besar yang berada dipinggir padang. Dari sana ia dapat melihat seorang perempuan sedang duduk menengadah menatap langit sambil memeluk sebuah gitar. Tangannya yang kurus memetik senar gitar itu. Sebuah lagu yang tak T kenal mengalun lembut. Suara cewek itu sungguh merdu, permainan gitarnyapun sangat bagus. Dan lagu yang mainkannya terkesan dalam. Sepereti mewakili seluruh perasaan penyanyinya.

T tetap tak beranjak dari tempatnya berdiri. Entah kenapa ia merasa lebih baik bila ia tetap berada pada posisinya saat ini, hingga akhirnya gadis itu beranjak meninggalkan taman

♥♥♥

T memencet kesal bel rumahnya. Sudah lebih dari 13 kali rasanya ia menekan bel itu sekuat tenaga. Namun sama sekali tak ada tanda – tanda akan ada yang membukakan pintu baginya..

Hari ini T memang pulang telat. Selepas sekolah tadi, teman – temannya memaksa T untuk hang out ke café

“Untuk perayaan penerimaan murid baru”

Kata seorang teman baru T.

Meskipun hari ini merupakan hari pertamanya di SMU Ilma, bukan perkara sulit bagi T untuk beradaptasi. Terbukti, walau murid baru, ia sudah akrab dengan seluruh teman sekolahnya. Acara yang diadakan teman – teman baru T untuk dirinyapun berjalan sukses hingga tanpa terasa mereaka pulang kemalaman. Dan kini tinggallah T seorang diri didepan rumahnya.

“Akh!! Mana gak bawa kunci! Kalau mau pergi bilang – bilang donk..”

T menggerutu sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku baju seragamnya sudah tampak mulai kusut. Maksud hati ingin menghubungi siapa saja anggota keluarganya yang dapat membantunya masuk kedalam rumah. Tapi ternyata ponsel T mati lantaran kehabisan baterai.

“Damn it!!”

T menendang kesal bawah pintu rumahnya. Ia lalu terduduk lemas diteras rumah dan menatap lurus kelangit yang sudah gelap. Bintang – bintang mulai berkelip menyapa setiap penduduk bumi. Tiba – tiba terlintas satu ide dibenak T.

Padang itu…”

Gumamnya seraya beranjak pergi meninggalkan rumah. Tasnya dibiarkan begitu saja tergeletak didepan pintu rumah.

‘Gak ada apa – apanya ini’

Fikir T dalam hati.

Sesampainya di padang rumput, langkah T kembali terhenti tepat dibawah pohon besar tempat ia berdiri cukup lama, kemarin. Di bangku taman sekitar 4 meter dihadapannya, T dapat melihat seorang cewek tengah menengadah menghadap langit sambil menyanyikan lagu. Tangannya yang kurus lentik lihai memetik senar gitar.

“Cewek itu.”

Lirih T.

Namun sama layaknya kemarin, T hanya bisa terpaku ditempatnya. Ia asyik mendengarkan alunan suara merdu gadis itu. Lagu yang dimainkannya sama seperti yang kemarin T dengar. Masih mendalam dan penuh penjiwaan. Menurut T lagu itu tentu punya arti yang sangat besar bagi si gadis. Bagaiman tidak, lagu itu selalu dimainkan berulang – ulang hingga gadis itu beranjak pergi meninggalkan taman.

♥♥♥

“Mau kemana T?”

Bunda bertanya saat T memutuskan untuk keluar rumah selapas makan malam.

“Keluar bun. Cari udara segar sambil liat – liat bintang. Diluar lagi cerah banget sih bun, bintangnya juga cantik banget. Sayang aja kalau aku Cuma ngeliatin dari rumah. Hehe . . . Pergi dulu ya bun!”

Jawab T panjang lebar lalu meninggalkan bundanya yang hanya dapat geleng – geleng kepala.

Sesampainya ditaman –tepat seperti dugaannya- T melihat lagi gadis yang ia jumpai dimalam sebelumnya. Seperti biasa, gadis itu tengah menatap langit sambil bernyanyi lagu yang sama pula. Kali ini T sudah membulatkan tekat untuk menyapa gadis itu.

‘Setidaknya say hey dulu. Selebihnya liat ntar aja!’

Bisik T dalam hati.

Satu dua langkah maju, T masih biasa – biasa saja. Namun berikutnya, jantung T berdebar lebih kencang dari semestinya. Entah kenapa ia berdebar – debar. Tak seperti T yang biasa. Ia bahkan merasa hawa dingin tiba – tiba menghampiranya membuat semakin tak menentu perasaan.

“Hai! Boleh aku duduk disitu?”

Sapa T saat berada tepat disamping gadis itu.

Yang disapa hanya memandang sekilas lalu kembali melanjutkan nyanyiannya. Dari dekat, suara merdu gadis itu makin terdengar jelas. Dan satu hal yang baru T sadari, gadis itu ternyata amat cantik. Sinar bulan yang pucat bahkan tak dapat menutupi kecantikannya. Rambutnya yang panjang sebahu menari – nari ditiup angin. Namun mereka hanya berdiam diri. Masing – masing larut dalam pikiran sendiri. Bahkan hingga malam beranjak larut, gadis itu meninggalkan tempatnya tanpa berpamitan dengan T yang jelas – jelas ada disampingnya.

♥♥♥

Malam T kini berlalu tak seperti biasa. Ia jadi punya kebiasaan baru, pergi ke padang rumput tiap malam dan duduk menemani seorang gadis yang selalu menyanyikan lagu yang sama. Awalnya, T memang benar – benar menjadi teman yang baik. Tak pernah sekalipun mereka berdua terlibat pada percakapan seringan apapun. Berulang kali T mengajukan pertanyaan pada gadis itu, tapi tak ada satupun jawaban yang T peroleh. Selain bernyanyi, gadis itu benar – benar tak bersuara. Namu bukan T namanya kalau sampai berhenti mencoba.

“Tau gak, kita ketemu hampir setiap hari dalam 3 minggu ini. Tapi aku sama sekali gak pernah denger kamu ngomong. I mean, beneran ngomong. Bukan nyanyi. Aku bahkan gak tau siapa nama kamu. Rumah kamu dimana, kamu masih sekolah apa gak. Gak adil deh kayaknya. Aku rasa kamu tentu udah tau nama aku. Well, kalau memang belum, nih ya, aku kasi tahu lagi. Namaku tuh Qyorte Hygeia. Aku sekarang kelas 3 Sains di SMU Ilma. Tadinya aku study di Yogyakarta. Tapi karena papaku dipindah tugaskan kesini, ya aku ikutan pindah kesini.”

T berkicau panjang lebar. Tak sia – sia, ia mendapatkan sesuatu yang tak ia sangka.

“Namaku Poryta Guildesh. Panggil aja Ory. Aku udah gak sekolah.”

Jawaban singkat dari gadis itu benar – benar membuat T terkejut. Ia senang akhirnya menemukan tanda – tanda kehidupan dari gadis yang selalu duduk bersamanya menyaksikan keindahan bintang.

Dan kemajuan terus berlanjut. Ory semakin sering bercerita. Mulai dari penyakit yang membuatnya harus puas dengan hanya belajar dirumah bersama seorang guru privat. Perjuangannya setiap malam kabur dari rumah sekedar ingin melihat bintang dari luar.

“Sejak putus sama pacarku, aku jadi paling gak bisa deket – deket ma cowok, kecuali papa ku. Jujur aja, awalnya aku juga gak suka kamu duduk disampingku. Tapi makin lama aku makin terbiasa dekat kamu. Tank’s ya T. Tapi satu hal, aku tetep gak suka disentuh! Dan aku juga gak suka ada orang yang sentuh – sentuh barang – barangku, terutama gitar ini!”

Ungkap Ory suatu hari! Dan hal itulah yang membuat T sama sekali tak pernah duduk kurang dari jarak 2 meter dari Ory. T juga selalu bawa gitar sendiri bila ia ingin ikutan bernyanyi sama Ory. Ia bahkan sudah hafal lagu yang selalu Ory nyanyikan. Ternyata lagu itu buatan Ory sendiri ketika ia putus dengan pacarnya.

♥♥♥

Malam ini langit tak cukup cerah. Beberapa awan membuat cahaya bulan dan beberapa bintang sedikit tertutupi. Namun hal itu tak membuat T mengurungkan niatnya untuk pergi ke padang rumput. Hari ini ia akan bertemu lagi dengan Ory. Dan entah kenapa, setiap memikirkan hal itu, ia selalu tak sabar menunggu malam tiba lagi. Ia seolah selalu rindu saat – saat betemu Ory.

“Malam ini mendung ya!”

Ory tiba – tiba bersuara, membuat T terkejut. Padahal tadinya ia bermaksud mengagetkan gadis itu. Tapi tak sangka justru ia yang dikejutkan.

“Haha . . . kok kamu tahu aku datang sih? Tapi, ya . . . . sedikit mendung.”

Ujar T sambil duduk ditempatnya yang biasa.

Diam – diam T melirik Ory. Gadis itu tetap cantik seperti biasa. Rambunya yang dibiarkan tergerai, sesekali menari bersama angin. Dan kalau T tak salah liat, Ory memakai baju kaus lengan pendek dipadu syal berwarna sama, dan celana gantung warna puti pula. Tiba – tiba angina bertiup lumayan kencang dan menerbangkan syal Ory. T refleks mengambil syal itu. Tak sengaja, tangannya menyentuh punggung tangan Ory. T merasa ada yang lain dengan tangan gadis itu. Namun ia tak sempat memikirkannya, karena ekspresi wajah Ory langsung berubah, entahlah, sulit untuk menjelaskannya. Gadis itu seperti tiba – tiba membeku. ia kemudian berlari meninggalkan T yang sama membekunya.

Keesokan malamnya T kembali ke padang rumput. Ia bermaksud untuk meminta maaf pada Ory atas kejadian kemarin karena ia benar – benar tak sengaja. Unfortunately, ia sama sekali tak menemukan gadis itu. T menunggu hingga malam larut. Namun sama sekali tak ada tanda – tanda bahawa Ory akan datang. Lelah menunggu, T memutuskan kembali kerumah dan berniat untuk datang lagi besok.

♥♥♥

Sudah seminggu T bolak – balik ke padang rumput setiap malam. Namun ia sama sekali tak menemukan Ory disana. Sejak kejadian beberapa malam lalu, Ory sama sekali tak pernah kembali kepadang. Gadis itu seperti menghilang dari hadapan T, dan hal itu benar – benar membuat T gusar. T jadi seperti orang linglung sekarang. Apapun yang dilakukannya tak ada yang beres. T benar – benar merindukan Orynya. Ia bertanya – tanya pada semua orang dikompleksnya, namun tak ada satupun yang mengenal Ory.

“AH!!!!"

Teriakan T yang tiba – tiba membuat seisi kantin menoleh padanya.

“Kamu kenapa T! Tak jadi gila kerena kehilangan Ory kan?”

Tanya Reugo, seorang teman T sambil bergantian memegangi jidat T dan dirinya. Takut kalau – kalau temannya itu beneran gila.

“Kamu tahu SMU Buana?”

T balik bertanya.

“Hah? Iya, tahu. Ada apa sih tiba – tiba . . . .”

“Bagus! Kamu ikut aku!”

T menarik paksa Reugo yang makin kebingungan. Seulas senyum tersimpul diwajahnya. Senyumnya yang pertama sejak Ory menghilang.

“Hoi – hoi! Ksi tahu dulu kamu mau kemana donk!! Lagian kamu nyadar gak sih? Ini tuh masih jam sekolah!!!!”

Reugo menjauh dari motor T saat mereka berada di parkiran.

“Pliz Go, ikut aku. Aku baru ingat klo Ory pernah sekolah di SMU Buana!”

Pinta T sambil melempar sebuah helm pada Reugo. Merasa T akan benar – benar jadi gila kalau sampai ia tak mau menemaninya saat ini, Reugo akhirnya naik ke motor ninja warna hijau itu.

Sesampainya di SMU Buana, T lalu memasuki ruang kantor SMU itu sementara Reugo memilih untuk menunggu di parkiran.

“Maaf bu, saya ingin tanya data tentang seorang murid ibu.”

Tanya T pada seseorang di ruang tata usaha.

“Bisa, tapi anak ini siapa, dan ada perlu apa?”

Tanya ibu itu sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Nama saya Qyorte dari SMU Ilma. Saya baru pindah kesini. Dan saya lagi mencari kabar teman lama saya, bu. Dia dulu pernah sekolah disini.”

T tak dapat memikirkan alasan lain.

“Oh begitu. Namanya siapa?”

“Ory bu, Poryta Guildesh!”

Si ibu yang sudah siap didepan komputernya memandang kaget kearah T.

“Maaf, apa saya tidak salah dengar? Tadi anak menyebut nama Poryta?”

Tanya ibu itu tak percaya.

T hanya mengangguk. Tak lama, ibu itu memberikan sebuah alamat pada T lengkap dengan nomor telephone rumahnya.

“Terima kasih bu!”

♥♥♥

T menatap lurus jauh kedepan. Saat ini bukan ia yang mengendarai mobil, namun sepertinya ialah yang dikendarai mobil. Raganya memang tengah focus debelakang setir, namun jiwanya terbang entah kemana. Pikiran T melayang – layang tak tentu. Ia teringat saat bersama Ory. Ketika awal mereka bertemu. Saat – saat T menunggu hingga akhirnya gadis itu mau berbicara. Dan ketika peristiwa itu terjadi, peristiwa yang menyebabkan Orynya menghilang. Yang membuat T tak lagi seperti dirinya yang dulu. Ia yang biasanya selalu ceria dan tetap berpikir positive apapun yang terjadi, berubah jadi orang yang selalu bernegative thinking. T sering memikirkan banyak hal buruk. Bagaimana kalau Ory marah atas kejadian waktu itu? Bagaiman bila Ory tak mau lagi menemuinya, bagaimana kalau ternyata penyakit Ory bertambah parah? T benar – benar takut kehilangan gadis itu. Waktu satu minggu tanpa Ory bagai satu abad bagi T. ia benar – benar merindu. Dan itu semakin meyakinkannya bahwa ia memang telah jatuh cinta. Lalu pikiran T kembali mengingat betapa beberapa saat yang lalu ia berdebar – debar karena akan bertemu lagi denga Orynya. Betapa senangnya ia tadi saat memikirkan seperti apa kira – kira reaksi Ory saat dirinya tiba – tiba berada di rumah gadis itu. Namun semuannya hancur. Khayalan yang telah disusun sempurna dalam benaknya hancur berkeping ketika ia bertemu mama Ory.

“Jadi nak T ini kawan lamanya Ory?”

Seorang wanita usia 30 tahunan bertanya sambil terus menatap T. Dan ketika T mengangguk, tangis wanita yang belakangan T tahu adalah mama Ory pecah. Wanita itu tersedu cukup lama dan T hanya bisa memegang punggung tangan wanita itu, mencoba menenangkan.

“Maafkan ibu, nak! Kamu pasti bingung ya.”

Kata wanita itu disela – sela tangisnya.

“Kamu tunggu sebentar disini.”

Lanjutnya seraya beranjak dari duduk.

Tak lama, ia kembali sambil membawa sebuah buku tebal yang lalu diberiikan pada T.

Setelah membacanya, T baru sadar bahwa itu adalah buku harian Ory. T sempat ragu untuk melanjutkan membaca buku itu, tetapi sepertinya mama Ory lebih senang bila T menyelesaikan membaca buku itu.

Sebagian besar isi dari buku hrian itu sebenarnya sudah T ketahaui langsung dari cerita Ory. Saat – saat gadis itu pertama masuk sekolah, lalu mulai jatuh hati pada Ryielko, mantannya. Ketika Ory sekuat tenaga menentang keputusan orang tuanya agar Ory berhenti sekolah karena kondisi kesehatannya yang semakin memburuk. Dan akhirnya Ory hanya dapat belajar dirumah bersama seorang guru privat. Hati T seolah tersayat saat mengetahui betapa Ory sangat mencintai Ryeilko. Ory yang dapat bertahan dirumah karena Ryielko setia menemuinya, membuatnya bahagia. Samapai disitu, semua sama seperti yang Ory ceritakan. Tapi selanjutnya sama sekali tak sama. Dibuku harian itu tertulis betapa Orynya hancur saat ia mendapat kabar bahwa Ryeilko mengalami kecelakaan parah yang menyebabkannya meninggal dunia. Padahal dari yang Ory ceritakan, mereka putus karena Ryeilko akan melanjutkan studynya keluar negeri. Lalu tertulis pula sebuah lirik yang tak asing lagi bagi T. Ya, lirik yang selalu dinyanyikan Ory. Dibahnya terdapat satu paragraph yang cukup singkat.

“Aku benar – benar udah gak kuat. Buat apa lagi aku bertahan kalau Ryie sudah tak ada? Oh Ryie, aku sungguh merindukanmu. Kau ingat aku pernah mengibaratkanmu sebagai bintang? Kataku waktu itu supaya kapanpun dan dimanpun, aku dapat selalu merasa kau ada disisiku. Tapi kini, seberapa indahpun bintang, tetap tak lagi kurasakan kau disisiku? Kasih, kenapa kau tinggalkan aku sendiri? Sudah kucaba untuk merelakan dan melupakanmu. Tapi tak bisa. Yang ada, rasa rindu ini semakin mendarah daging. Aku semakin mengharapkanmu berada disampingku. Aku benar – benar merindukan senyummu yang indah, hanya untukku! Ryie, izinkan aku melihatmu lagi!”

Seperti itu tulisan terakhir dalam buku harian Ory, tertanggal 14 February 20xx, tiga tahun yang lalu. Setelah itu tak ada satupun tulisan lain. Padahal halaman yang tersisa masih sangat banyak. T jadi semakin merasa aneh.

“Kamu tentu berpikir mengapa Ory tak lagi menulis dibukunya itu? Itu karena ia tak bisa lagi menulis.”

Mama Ory kembali menangis membuat pikiran T tambah tak keruan.

“Ory tak bisa menulis lagi karena dia benar – benar pergi untuk melihat Ryienya.”

Kali ini tangis mama Ory benar – benar lepas.

Selanjutnya, T berupaya keras memahami apa yang dikatakan mama Ory disela – sela tangisnya. Nafas T tercekat. Ada sesuatu yang tiba – tiba menyelusup kedalam pori, berkumpul dan menyita ruang paru – paru membuatnya sangat sulit bernafas.

Kini T kembali kealam sadarnya. Hujan yang entah sejak kapan turun menghalangi pandangan membuat T menghentikan laju mobilnya dan berhenti dipinggir jalan. Air matanya tiba – tiba melesat keluar tanpa permisi. T sudah tak sanggup lagi membuat bendungan yang selama ini ia ciptakan untuk dapat tegar bertahan jadi dibiarkannya saja titik hangat itu beranak sungai dikedua pipinya. Apa yang ia takutkan terjadi sudah. Ia kehilangan Orynya. Cinta pertamanya, bahkan sebelum ia menemukannya. T sebenarnya sama sekali tak ingin mempercayai apa yang ia alami saat ini. Tapi mama Ory tak mungkin berbohong dengan mengatakan Ory –putri semata wayangnya- telah meninggal dunia tiga tahun yang lalu. Lalu Ory yang selama ini T temui siapa? Atau lebih tepatnya apa?

“Damn it!!! Mana mungkin, ini semua gak masuk akal!!”

T berteriak sambil memukul sekaut tenaga setir dihadapannya. Namun sekeras apapun ia mencari alasan lain yang bisa lebih masuk akal, tetap tak ada yang bisa menyangkal bahwa Ory yang selama ini ia temui, Ory yang membuatnya jatuh cinta, Ory yag selalu membuatnya rindu, Ory yang selalu membuatnya tak sabar menanti hari berganti malam karena ingin segera bertemu, bukanlah Ory. Faktanya, ia memang telah kehilangan Ory bahkan jauh sebelum ia sempat bertemu dengannya.

“Akh!!! Bisa gila aku”

T kembali berteriak.

♥♥♥

Malam ini T kembali kepadang rumput. Disana ia menatap bintang yang begitu indah, sendirian.

Sebulan beralalu sudah sejak ia tak lagi menjumpai Ory. Gadis itu benar – benar menghilang dari kehidupan T. Tadinya T berpikir akan bisa melupakannya seiring berlalunya sang waktu. Tapi ternyata ia salah besar. Cinta T telah tertanam begitu dalam pada gadis itu. Kalau saja ia bisa mengusahakan untuk terus mnecari gadis itu, tapi mana mungkin! Ory bahkan telah meninggalkan T jauh sebelum ia menemukannya. Hal yang tak masuk akal itu, mau tak mau harus T percayai. Bahwa Ory yang selama ini bersamanya, bukanlah Ory.

T lalu teringat suatu hari Ory pernah bercerita tentang bintang.

“Bintang itu cantik banget kan T”

Ujar gadis itu sambil menatap kagum benda yang berkelap – kelip di langit.

“Bintang itu setia banget. Kapanpun dan dimanapun kita, bintang selalu nemenin kita. Saat kita sedih, saat kita senang, bintang selalu ada buat kita. Kalau toh kita gak bisa liat bintang, bukan berarti bintang ninggalin kita. Bintang cuma sedang mengalah pada mentari saat siang atau awan yang ingin rajai malam. Aku ingin banget jadi bintang buat seseorang.”

Saat itu T hanya tersenyum mendengar cerita Ory. Tapi kini ia baru sadar bahwa sebenarnya, gadis memang tleh menjadi bintang. Bintang bagi dirinya.

“T . . . . T . . . . . T . . . . !!”

Sayup – sayup T mendengar sebuah suara yang begitu lembut membangunkannya. Suara itu, suara yang amat ia rindukan! T buru – buru membuka matanya.

“Apa kabar, T?!”

T tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia melihat Ory. Gadis itu duduk disampingnya, menatapnya. Rasa rindu yang telah lama tepenjara dihati T tiba – tiba berontak ingin dibebaskan. T mengulurkan tangannya, mencoba memeluk Ory. Tapi tak bisa. Dan ia baru sadar mengapa Ory tak pernah ingin disentuh, juga perasaan aneh saat tak sengaja menyentuhnya, Ory memang tak bisa digapai. Dia, gadis itu, transparan, atau apalah namanya.

“Kau sudah tahu, kan, mengapa aku tak ingin disentuh?”

Ory tersenyum. Senyum termanis yang parnah T lihat. Tapi senyum itu justru membuat hatinya lebih sakit.

“T, kau tentu sudah tahu siapa aku kan? Who really I am!”

Kali ini pandangan Ory meredup. Senyumnya lebih mirip seringai orang yang ingin menangis –well, walau Ory bukan ‘orang’-

“Hhh… Aku bunuh diri T! aku binih diri karna waktu itu merasa tak ada lagi artinya hidup tanpa Ryie!”

Ory bercerita kemudian. Sementara T hanya diam mendengarkan. Ia sadar, tak ada yang lebih baik dari mendengarkan cerita Ory.

“Waktu itu aku benar – benar merasa cuma Ryie satu – satunya motor hidupku. Tanpa dia, buat apalagi aku bertahan hidup?! Sungguh sakit kehilangan Ryie, T! Hatiku sangat sakit waktu itu. Dan ketika aku sudak tak kuat lagi menahannya, maka jadilah aku bunuh diri.”

Ada jeda yang cukup lama membuat nafas T makin sesak.

“Kau tahu kenapa aku bilang waktu itu?”

Sebenarnya Ory tak beniat bertanya. Karna sebelum T sempat menjawapu, ia sudah kembali melanjutkan ceritanya.

“Itu karena sekarang aku sadar betapa bodohnya aku! Kenapa aku melakukan hal sebodoh itu!! Aku menyesal T! aku menyesal! Kenapa juga aku berpikir tanpa Ryie hidupku tak ada artinya? Kenapa juga aku berpikir tak akan ada yang dapat menggantikan posisi Ryie dihatiku…”

Tetes air mulai membanjiri pipi Ory! Hei, lucu ya. Ternyata hantu juga bisa menangis.

“Dan itu semua karena kamu T! Berkat kamu aku tahu bahwa sebenarnya aku bisa mendapatkan pengganti Ryie. Sejak bersama kamu, aku tahu aku bisa jatuh cinta lagi. Seandainya aku gak bunuh diri T, tentu aku bisa kembali melalui hari – hariku yang ceria walau harus sekedar menjadi temanmu. Apalagi kalau aku bisa selalu bersamamu. Dan semua pemikiran itu membuatku semakin menyesal!”

Ada sesuatu yang tiba – tiba menyelusup kedalam perut T membuatnya merasa geli. Jantungnya jadi berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Perasaan yang membuatnya semakin sulit bernafas.

“Tapi apa gunanya aku menyesal. Tak ada lagi yang bisa kuperbaiki saat ini. Makanya, untuk terakhir kali aku menemuimu. Aku cuma mau berterima kasih atas segala yang pernah kita lalui. Semuanya. Juga karena telah membuatku jatuh cinta lagi.”

Perlahan bayangan Ory memudar dan lama – kelamaan mulai menghilang. T mulai merasa takut. Takut kehilangan Ory. Tak melihatnya selama beberapa minggu saja sudah membuatnya rindu setengah mati. T benar – benar belum siap harus kehilangan gadis itu lagi. Rindunnya belum terobati. Sebentar saja ia ingin bersama dengan Ory. T mencoba meraih Ory, menahannya agar tak menghilang. Tapi percuma. Saat ini gadis itu benar – benar telah menghilang.

“Ory!!!”

T terbangun dari tidurnya. Matanya berkedip menahan silau matahari. Disekelilingnya hanya ada rumput dan banyak pohon besar tak jauh dari situ. Sesaat ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Dan ternyata semalam ia ketiduran dipadang rumput. Pantas saja ia merasa kedinginan.

T membetulkan posisi duduknya. Satu demi satu butiran hangat melesat dari ekor matanya, perlahan, tapi pasti.

“Hhh, aku bisa seperti ini hanya karena seorang gadis!!”

Ejeknya pada diri sendiri.

Untuk sementara T mungkin akan menutup hatinya dari cinta. Tapi ia yakin, suatu saat nanti, ia akan kembali jatuh cinta. Ya, suatu saat nanti. Dan tentang Ory. Gadis itu tentu tak akan pernah terlupakan selama T masih dapat melihat dan merasakan kehadiran bintang. Karena Ory adalah cinta pertamanya, bintangnya yang akan selalu bersinar dilangit.

♥♥♥

“Lho, mau kemana malam – malam gini, T?”

Suara mama mengejutkan T yang memang tampak ingin keluar rumah.

“Eh, mama. Mau ke padang rumput dulu ma. Liat bintang.”

“Lho, malam ini kan gelap saying, mana ada bintang!”

“Siapa bilang, aku donk bisa liat bintang.”

Ungkap T sambil tersenyum penuh arti. Ia kemudian berlalu meninggalkan mamanya yang kebingungan.

Comments

Post a Comment

Popular Posts